Sabtu, 05 Januari 2008

Gigi Gerbang Kedatangan Penyakit

KESEHATAN gigi dan mulut hingga kini masih belum menjadi perhatian utama.Akibatnya, gigi berlubang atau karies menjadi masalah umum yang dihadapi sebagian besar masyarakat.
Padahal kondisi ini menjadi gerbang beragam penyakit. Mengabaikan kesehatan gigi dan mulut berarti membuka gerbang terserang berbagai penyakit.


Selama ini penanganan masalah gigi masih sebatas menambal lubang gigi.Tindakan tersebut sudah dianggap mampu mengontrol karies. Padahal itu belum cukup mengatasi masalah secara menyeluruh.


”Penyakit karies atau gigi berlubang merupakan penyakit infeksi yang umum di dunia dan ditemukan pada 95% jumlah penduduk dunia,” ujar Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Sri Angky Soekanto DDS PhD di selasela penandatanganan kerja sama antara LOTTE dan FKG UI di Jakarta, belum lama ini.
Angka kerusakan gigi di Indonesia berdasarkan survei kesehatan yang dilakukan Departemen Kesehatan RI pada 2001 menemukan sekitar 70% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas pernah mengalami kerusakan gigi.
Pada usia 12 tahun, jumlah kerusakan gigi mencapai 43,9%, usia 15 tahun mencapai 37,4%, usia 18 tahun 51,1%, usia 35–44 mencapai 80,1%, dan usia 65 tahun ke atas mencapai 96,7%.

Data ini tentu saja tidak bisa dianggap enteng.Hal ini karena beberapa penyakit berbahaya seperti jantung, paru-paru, berat bayi lahir yang rendah, kelahiran prematur, dan diabetes bisa diawali dari masalah kebersihan gigi dan mulut. Penyakit periodontal atau penyangga gigi dan karies lanjut pada seseorang lebih ditentukan oleh faktor genetik, respons seseorang, lingkungan, kebiasaan, dan faktor risiko yang diperoleh.
Pada penyakit periodontal, bakteri yang menempel di gigi dan gusi akan berpengaruh ke pembuluh darah.

Gangguan itu menyebabkan pelebaran pembuluh darah karena adanya bakteri yang masuk dalam aliran darah. Infeksi dapat merangsang senyawa tubuh tertentu untuk mengeluarkan pertahanan tubuh sehingga akan memengaruhi pembuluh darah. Akibatnya, terjadi peningkatan risiko penyakit sistemik, termasuk penyakit jantung koroner.
Kesehatan gigi juga berpengaruh terhadap janin yang dikandung ibu hamil. Karies gigi yang menjadi tempat bagi masuknya kuman akan menyebabkan terjadinya infeksi selaput ketuban.

Akibatnya, ketuban pecah sebelum waktunya. Selain risiko lahir prematur, infeksi kuman juga menyebabkan berbagai dampak lain seperti pertumbuhan janin ter- hambat, berat badan lahir rendah, dan mudah terserang penyakit karena sistem imunitas belum terbentuk sempurna. Risiko kematian pada bayi pun mengintai lantaran belum siap hidup di luar rahim dengan paru-paru dan hati yang belum matang.
Sementara sistem imunitasnya pun belum terbentuk sempurna. ”Oleh karena itu, penting mencegah gigi berlubang sejak dini dengan melakukan perawatan kesehatan sehari-hari,” ungkap Angky.

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari sikat gigi teratur, dental floss, obat kumur, mousse gel, dan chewing gum. Peneliti dari Bagian Biologi Oral FKG UI Prof Elza I Auerkari DDS MBIOMED PhD menyarankan, di samping bahan flouride,xylitol pun bermanfaat untuk menjaga kesehatan gigi.
”Keduanya menjadi adiktif yang efektif mengurangi karies,” kata Prof Elza, seraya menambahkan proses karies bisa terjadi akibat gaya hidup dan sosial-ekonomi. Xylitol merupakan bahan yang bermanfaat untuk menekan jumlah bakteri Mutans S— salah satu kuman penyebab karies gigi—,menghambat pertumbuhan plak, menekan keasaman plak, dan mempercepat proses pembentukan kembali mineral gigi (remineralisasi).
Selain itu, xylitol mampu menstimulasi produksi air liur sehingga baik dikonsumsi oleh orang yang mulutnya cenderung kering.Apalagi, bahan yang satu ini merupakan sejenis pemanis alami. Xylitol terdapat dalam serat beberapa jenis buah dan sayuran seperti plum, raspberi, stroberi, kembang kol,dan bayam.


Tidak ada komentar: